Sejenak yang melelapkan. Lalu barisan kenangan pahit menerbitkan kembali luka itu. Menciutkan hasrat tunas untuk bersemi. Kelopak bunga masih jauh dari mekar, bahkan dalam ketakutannya layu teranggas terik matahari.
Cukup sampai di sini. Adalah kita, tak ada —lagi.
Aku akan berdiri di jalanku. Mengundurkan diri sebagai tiang dan jembatan tanpa sebab, untukmu.
Dan seterusnya, tanpa ijinmu aku akan berlari dan menari dalam gerimis pagi, —sendiri. Permisi…!!!
berulang kali kau menyakiti,
berulang kali kau khianati,
sakit ini coba pahami,
ku punya hati bukan tuk disakiti,
ku akui sungguh beratnya,
meninggalkanmu yang dulu pernah ada,
namun harus aku lakukan,
karena ku tahu ini yang terbaik,….
ku harus pergi meninggalkan kamu,
yang telah hancurkan aku,
sakitnya, sakitnya, oh sakitnya…
ku akui sungguh beratnya,
meninggalkanmu yang dulu pernah ada,
namun harus aku lakukan,
karena ku tahu ini yang terbaik,….
ku harus pergi meninggalkan kamu
yang telah hancurkan aku
sakitnya, sakitnya, oh sakitnya
cintaku lebih besar dari cintanya…
mestinya kau sadar itu,
bukan dia, bukan dia, tapi aku…
begitu beratkah ini,
hingga ku harus mengalah…
ku harus pergi meninggalkan kamu,
yang telah hancurkan aku,
sakitnya, sakitnya, oh sakitnya…
(cintaku) cintaku …
(lebih besar dari benciku) lebih besar dari benciku,
cukup aku yang rasakan,
(jangan dia) jangan dia …
(jangan dia) jangan dia cukup aku …
(jangan dia jangan dia) cukup aku,
(jangan dia)
….