Menjadi biasa, itu luar biasa. Aku terbiasa bersamamu lalu tidak, itu sungguh menyiksa.
Tak mampu kutepikan. Nyatanya, rumah hatimu adalah tumpah rinduku. Berkemah merangsak sumsum; mengibarkan bendera kegelisahan yang membukitkan luka, juga bahagia.
Jika boleh memilih, aku membutuhkan rindu sebagai kata keramat yang ingin kudengar dari bibirmu, setiap hari. Seperti berpuluh malam yang kita pahat dengan napas surgawi. Seperti berpuluh mimpi yang kita hias dengan warna pelangi.
Ajarkan aku menjadi naif.
Senaif dirimu yang masih bisa tertawa.
Senaif kebahagiaan di alam kita berdua.
Karena setiap detik di kala kenyataan mulai bersinggungan.
Aku rasakan sakit yang nyaris tak tertahankan.
Atau ajarkan aku menjadi penipu.
Apabila ternyata kau merasakan sakit itu dalam tawamu.
Supernova, Kesatria, Puteri dan Bintang Jatuh. Page 124.
aku menemukan kamu di balik secangkir teh kayu manis, sore ini.
aku menghitung hari. dua, tujuh, enambelas hari sejak kepergianmu dengan secarik senyum menghias di bibir. secarik ? ah ya, kamu selalu tersenyum ketika aku menyebut senyummu dengan secarik. karena bibir kamu yang tipis dan ranum merah jambu.
aku menemukan senyummu di dalam kepulan hangat aroma kayu manis yang menggelitik hidungku. senyummu hangat dan menggoda untuk dihisap. aku terpikat dan luruh dalam senyum yang membuat debar jantungku menari dalam nada yang menghentak tak berirama.
kusesap batang kayu manis. terasa pahit dan getir. seperti itu lah dirimu. hangat. mencintaimu itu pahit dan getir. kamu seperti ranah yang tak terjamah. tak peka mengenali peta hatimu yang tak berjejak. kamu tinggal begitu lama dalam hatiku tapi aku tak mengenalimu sedalam itu. lelikuan sikap dan maumu meninggalkan ranah gersang sejak kepergianmu, dengan secarik senyummu itu.
ah. nikmatnya menikmati secangkir teh kayu manis di sore hari. menikmati hangat, manis, pahit dan getirnya. seperti menikmati kamu, yang sudah enam belas hari ini tak pulang ke rumah hatiku.
***
sore hari, menikmati senja luruh sambil menghitung hari, yaaa genap enambelas hari, dan kamu belum pulang. secangkir teh kayu manis yang biasanya menemani kini tak mampu menggantikan. huh.
Sejenak yang melelapkan. Lalu barisan kenangan pahit menerbitkan kembali luka itu. Menciutkan hasrat tunas untuk bersemi. Kelopak bunga masih jauh dari mekar, bahkan dalam ketakutannya layu teranggas terik matahari.
Cukup sampai di sini. Adalah kita, tak ada —lagi.
Aku akan berdiri di jalanku. Mengundurkan diri sebagai tiang dan jembatan tanpa sebab, untukmu.
Dan seterusnya, tanpa ijinmu aku akan berlari dan menari dalam gerimis pagi, —sendiri. Permisi…!!!
berulang kali kau menyakiti,
berulang kali kau khianati,
sakit ini coba pahami,
ku punya hati bukan tuk disakiti,
ku akui sungguh beratnya,
meninggalkanmu yang dulu pernah ada,
namun harus aku lakukan,
karena ku tahu ini yang terbaik,….
ku harus pergi meninggalkan kamu,
yang telah hancurkan aku,
sakitnya, sakitnya, oh sakitnya…
ku akui sungguh beratnya,
meninggalkanmu yang dulu pernah ada,
namun harus aku lakukan,
karena ku tahu ini yang terbaik,….
ku harus pergi meninggalkan kamu
yang telah hancurkan aku
sakitnya, sakitnya, oh sakitnya
cintaku lebih besar dari cintanya…
mestinya kau sadar itu,
bukan dia, bukan dia, tapi aku…
begitu beratkah ini,
hingga ku harus mengalah…
ku harus pergi meninggalkan kamu,
yang telah hancurkan aku,
sakitnya, sakitnya, oh sakitnya…
(cintaku) cintaku …
(lebih besar dari benciku) lebih besar dari benciku,
cukup aku yang rasakan,
(jangan dia) jangan dia …
(jangan dia) jangan dia cukup aku …
(jangan dia jangan dia) cukup aku,
(jangan dia)
….
……… aku ingin sekali tuli.
Sekawanan samurai terbuat dari huruf datang menyerang.
Mencacah harga diriku seperti daging cincang.
Mereka menghinaku, karna aku hanya bisa diam.
Mereka menyumpahiku, karna aku rela diabaikan…
From Supernova Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh-Dee